BacaKisahAlkitab logoBacaKisahAlkitab
Kejadian 37Yusuf dan Saudara-saudaranya

Yusuf dan Saudara-saudaranya

Page 1 / 22

Di tanah Kanaan, hiduplah seorang lelaki tua bernama Yakub bersama kedua belas putranya. Dari semua putranya, ia paling mengasihi Yusuf, putra dari masa tuanya. Kasih ini terlihat jelas oleh semua orang.

Page 1
Page 2 / 22

Untuk menunjukkan kasih sayangnya yang istimewa, Yakub membuatkan Yusuf sebuah jubah yang luar biasa—jubah maha indah yang ditenun dengan benang aneka warna, lebih megah dari pakaian mana pun yang dimiliki oleh kakak-kakaknya.

Page 2
Page 3 / 22

Kakak-kakak Yusuf melihat jubah itu, dan hati mereka dipenuhi dengan kedengkian. Rasa iri itu begitu besar sehingga mereka tidak bisa lagi mengucapkan sepatah kata pun yang ramah kepada adik mereka.

Page 3
Page 4 / 22

Suatu malam, Yusuf bermimpi. "Dengarkanlah mimpiku," katanya kepada kakak-kakaknya. "Kita sedang mengikat berkas-berkas gandum di ladang, lalu berkas gandumku bangkit dan berdiri tegak, sementara berkas-berkas gandum kalian mengelilinginya dan sujud menyembah kepadanya."

Page 4
Page 5 / 22

Mimpi itu membuat kakak-kakaknya semakin membencinya. Tak lama kemudian, Yusuf bermimpi lagi. Kali ini, ia melihat matahari, bulan, dan sebelas bintang sujud menyembah kepadanya.

Page 5
Page 6 / 22

"Apakah maksudmu aku, ibumu, dan saudara-saudaramu akan datang dan sujud menyembah kepadamu?" tegur Yakub. Meskipun begitu, Yakub menyimpan perkataan itu dalam hatinya, sementara kebencian kakak-kakak Yusuf semakin menjadi-jadi.

Page 6
Page 7 / 22

Suatu hari, ketika kakak-kakaknya sedang menggembalakan domba di dekat Sikhem, Yakub memanggil Yusuf. "Pergilah sekarang, lihat apakah saudara-saudaramu baik-baik saja, dan bawalah kabar kepadaku."

Page 7
Page 8 / 22

Dari kejauhan, para saudaranya melihat Yusuf datang. "Lihat, si pemimpi itu datang!" kata mereka satu sama lain dengan nada mengejek. Benih rencana jahat mulai tumbuh di hati mereka.

Page 8
Page 9 / 22

"Mari kita bunuh dia dan lemparkan dia ke dalam salah satu sumur kering," usul mereka. "Lalu kita akan katakan bahwa seekor binatang buas telah menerkamnya. Kita lihat saja nanti apa yang akan terjadi dengan mimpi-mimpinya itu!"

Page 9
Page 10 / 22

Namun Ruben, kakak sulung, tidak tega. "Janganlah kita tumpahkan darah," katanya. "Lemparkan saja dia ke dalam sumur di padang gurun ini, tetapi jangan sakiti dia." Ruben berencana untuk kembali dan menyelamatkannya nanti.

Page 10
Page 11 / 22

Ketika Yusuf tiba, mereka langsung menangkapnya. Dengan kasar, mereka merenggut jubah maha indah yang ia kenakan, simbol kasih sayang ayah mereka yang kini menjadi sumber penderitaannya.

Page 11
Page 12 / 22

Tanpa belas kasihan, mereka melemparkan Yusuf ke dalam sumur kering itu. Sumur itu gelap, dalam, dan tidak ada air di dalamnya. Yusuf sendirian dalam kegelapan, panggilannya minta tolong tidak dihiraukan.

Page 12
Page 13 / 22

Kemudian, saat mereka duduk untuk makan, mereka melihat ke atas dan tampaklah sebuah kafilah orang Ismael datang dari Gilead. Unta-unta mereka sarat dengan rempah-rempah, balsam, dan mur, yang mereka bawa ke Mesir.

Page 13
Page 14 / 22

Yehuda berkata kepada saudara-saudaranya, "Apa untungnya jika kita membunuh adik kita dan menyembunyikan darahnya? Mari kita jual dia kepada orang Ismael ini. Bagaimanapun juga, dia adalah saudara kita, darah daging kita."

Page 14
Page 15 / 22

Mereka setuju. Mereka menarik Yusuf keluar dari sumur dan menjualnya seharga dua puluh syikal perak kepada para pedagang Ismael itu. Yusuf menatap saudara-saudaranya dengan tatapan memohon, tetapi mereka memalingkan muka.

Page 15
Page 16 / 22

Ketika Ruben kembali ke sumur dan tidak menemukan Yusuf di sana, ia merobek pakaiannya karena putus asa. "Anak itu tidak ada lagi!" serunya kepada saudara-saudaranya. "Ke mana aku harus pergi sekarang?"

Page 16
Page 17 / 22

Untuk menutupi kejahatan mereka, para saudara itu menyembelih seekor kambing jantan dan mencelupkan jubah Yusuf ke dalam darahnya. Setiap warna cerah pada jubah itu kini ternoda oleh noda merah tua yang mengerikan.

Page 17
Page 18 / 22

Mereka membawa jubah berdarah itu kepada ayah mereka dan berkata, "Kami menemukan ini. Periksalah sekarang apakah ini jubah putramu atau bukan."

Page 18
Page 19 / 22

Yakub langsung mengenalinya. "Ini jubah putraku!" serunya dengan hati yang hancur. "Seekor binatang buas telah menerkamnya. Pastilah Yusuf telah dicabik-cabik!" Yakub merobek pakaiannya dan berkabung dalam kesedihan yang mendalam.

Page 19
Page 20 / 22

Semua putra dan putrinya mencoba menghiburnya, tetapi ia menolak untuk dihibur. "Tidak," katanya, "aku akan berkabung untuk putraku sampai aku turun ke dunia orang mati." Demikianlah ayahnya menangisi dia.

Page 20
Page 21 / 22

Sementara itu, jauh dari rumah dan keluarganya, para pedagang itu membawa Yusuf dalam perjalanan panjang melintasi padang pasir menuju negeri Mesir yang besar dan asing.

Page 21
Page 22 / 22

Di Mesir, orang-orang Midian menjual Yusuf kepada Potifar, seorang pegawai Firaun, kepala pengawal istana. Meskipun ia dijual sebagai budak, takdir Yusuf baru saja dimulai, dan mimpi-mimpinya menunggu untuk digenapi.

Page 22

Pertanyaan Perenungan

Pilih satu pertanyaan yang paling sesuai dengan kondisi teman-teman, kemudian renungkan dan buat penerapan praktisnya.

  1. Bagaimana sikap pilih kasih Yakub terhadap Yusuf memicu iri hati dan perpecahan, dan bagaimana kita bisa menghindari jebakan yang sama dalam keluarga atau komunitas kita?
  2. Melihat mimpi Yusuf, bagaimana seharusnya kita merespons panggilan atau visi dari Tuhan, terutama ketika hal itu mungkin tidak dipahami atau diterima baik oleh orang di sekitar kita?