
Perapian yang Menyala-nyala
Raja Nebukadnezar, dengan kekuasaan dan kebanggaan yang besar, membuat sebuah patung emas raksasa. Tingginya enam puluh hasta dan lebarnya enam hasta. Ia mendirikannya di dataran Dura di wilayah Babel.

Kemudian raja menitahkan semua pejabat tinggi kerajaannya untuk berkumpul. Para wakil raja, penguasa, bupati, penasihat, bendahara, hakim, dan semua kepala daerah datang untuk upacara peresmian patung itu.

Seorang bentara berseru dengan suara nyaring, "Hai segala bangsa, suku bangsa, dan bahasa! Inilah perintah untukmu!"

"Apabila kamu mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, dan segala jenis alat musik lainnya, kamu harus sujud menyembah patung emas yang telah didirikan Raja Nebukadnezar."

"Siapa pun yang tidak sujud menyembah, akan segera dilemparkan ke dalam perapian yang menyala-nyala!" lanjut bentara itu, suaranya menggelegar.

Begitu musik mulai dimainkan, semua orang dari segala bangsa yang ada di sana langsung sujud menyembah patung emas itu. Tanah lapang itu dipenuhi orang-orang yang bersujud.

Tetapi ada tiga orang pemuda Yahudi yang tidak mau bersujud. Mereka adalah Sadrakh, Mesakh, dan Abednego. Mereka berdiri tegak di tengah kerumunan yang bersujud, iman mereka hanya kepada Tuhan.

Beberapa orang Kasdim yang iri hati segera menghadap raja. "Ya Raja, kekallah hidupmu! Ada beberapa orang Yahudi, yaitu Sadrakh, Mesakh, dan Abednego, yang tidak mematuhi perintah Tuanku. Mereka tidak menyembah patung emas itu."

Raja Nebukadnezar menjadi sangat murka. Ia memerintahkan agar Sadrakh, Mesakh, dan Abednego segera dibawa ke hadapannya.

Ketika mereka tiba, raja bertanya dengan geram, "Benarkah, hai Sadrakh, Mesakh dan Abednego, bahwa kamu tidak memuja dewaku dan tidak menyembah patung emas yang kudirikan itu?"

"Aku akan memberimu satu kesempatan lagi," kata raja. "Jika saat musik berbunyi kamu sujud menyembah, kamu akan selamat. Tetapi jika tidak, kamu akan dilemparkan ke dalam perapian. Dan dewa mana yang dapat melepaskanmu dari tanganku?"

Sadrakh, Mesakh, dan Abednego menjawab, "Ya Nebukadnezar, tidak ada gunanya kami membela diri. Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu."

"Tetapi seandainya tidak," lanjut mereka dengan berani, "hendaklah Tuanku mengetahui, ya Raja, bahwa kami tidak akan memuja dewamu atau menyembah patung emas yang Tuanku dirikan itu."

Kemarahan Raja Nebukadnezar meluap-luap. Ia memerintahkan agar perapian itu dipanaskan tujuh kali lebih panas dari biasanya.

Raja memerintahkan prajurit-prajuritnya yang paling kuat untuk mengikat Sadrakh, Mesakh, dan Abednego dan melemparkan mereka ke dalam api.

Karena perintah raja begitu keras dan perapian itu sangat panas, nyala api membunuh para prajurit yang melemparkan ketiga pemuda itu.

Tiba-tiba, Raja Nebukadnezar terkejut. "Bukankah kita melemparkan tiga orang yang terikat ke dalam api?" tanyanya. "Tetapi aku melihat empat orang berjalan-jalan dengan bebas di tengah api, dan mereka tidak terluka!"

"Dan yang keempat itu," seru raja dengan takjub, "perawakannya seperti anak dewa!" Di dalam api, keempat sosok itu berjalan dengan tenang, tidak tersentuh oleh nyala api.

Nebukadnezar mendekati pintu perapian dan berseru, "Sadrakh, Mesakh, dan Abednego, hamba-hamba Allah Yang Mahatinggi, keluarlah!" Mereka pun keluar dari tengah-tengah api.

Semua pejabat tinggi berkumpul mengelilingi mereka. Mereka melihat bahwa api tidak berkuasa atas tubuh ketiga orang itu. Sehelai rambut pun tidak hangus, dan bahkan bau api pun tidak ada pada mereka.

Maka berkatalah Nebukadnezar, "Terpujilah Allahnya Sadrakh, Mesakh, dan Abednego! Ia telah mengutus malaikat-Nya dan melepaskan hamba-hamba-Nya yang percaya kepada-Nya."

Raja mengeluarkan perintah baru, "Setiap orang dari bangsa mana pun yang mengucapkan penghinaan terhadap Allahnya Sadrakh, Mesakh, dan Abednego, akan dihukum. Karena tidak ada dewa lain yang dapat menyelamatkan seperti ini!"

Kemudian raja memberikan kedudukan yang lebih tinggi lagi kepada Sadrakh, Mesakh, dan Abednego di wilayah Babel. Iman mereka telah membawa kemuliaan bagi Tuhan dan berkat bagi diri mereka sendiri.

Pertanyaan Perenungan
Pilih satu pertanyaan yang paling sesuai dengan kondisi teman-teman, kemudian renungkan dan buat penerapan praktisnya.
- Patung emas modern apa dalam hidup saya yang menuntut kesetiaan saya melebihi Tuhan?
- Saat menghadapi tekanan untuk mengkompromikan iman, bagaimana saya bisa menunjukkan keberanian seperti Sadrakh, Mesakh, dan Abednego?
📚 Fun Facts Kitab Daniel
Salah satu keunikan paling menonjol dari Kitab Daniel adalah strukturnya yang ditulis dalam dua bahasa Semit yang berbeda. Bagian pembuka (pasal 1) dan bagian nubuat akhir (pasal 8-12) ditulis dalam bahasa Ibrani, bahasa suci bangsa Israel. Namun, bagian tengah yang signifikan (pasal 2-7) ditulis dalam bahasa Aram, yang pada masa itu berfungsi sebagai bahasa pergaulan internasional di Timur Dekat. Para ahli percaya bahwa penggunaan bahasa Aram ini disengaja, karena bagian tersebut berfokus pada kerajaan-kerajaan dunia dan pesan Tuhan yang ditujukan bukan hanya untuk orang Yahudi, tetapi juga untuk bangsa-bangsa lain.
Kitab Daniel secara alami terbagi menjadi dua bagian yang sangat berbeda dalam gaya penulisan dan konten. Enam pasal pertama menyajikan serangkaian kisah naratif tentang kehidupan Daniel dan teman-temannya di istana Babilonia dan Persia, yang menyoroti kesetiaan mereka kepada Tuhan di tengah lingkungan yang asing. Sebaliknya, enam pasal terakhir (pasal 7-12) beralih ke genre apokaliptik, yang berisi penglihatan-penglihatan simbolis dan dramatis tentang masa depan, kebangkitan dan kejatuhan kerajaan, serta kemenangan akhir Kerajaan Allah.
Ungkapan modern "the writing on the wall" yang berarti pertanda malapetaka yang tak terhindarkan, berasal langsung dari kisah nyata dalam Daniel pasal 5. Dalam narasi tersebut, sebuah tangan misterius muncul dan menulis kata-kata samar di dinding istana Raja Belsyazar saat ia sedang mengadakan pesta. Hanya Daniel yang mampu menafsirkan tulisan itu sebagai pesan penghakiman dari Tuhan atas kesombongan sang raja. Malam itu juga, Belsyazar terbunuh dan kerajaannya direbut, menjadikan frasa tersebut simbol abadi akan peringatan ilahi.
Kitab Daniel memperkenalkan salah satu gelar terpenting bagi Yesus dalam Perjanjian Baru. Dalam penglihatannya di pasal 7, Daniel menggambarkan "seorang seperti anak manusia" yang datang di atas awan-awan surga untuk menerima kuasa dan kerajaan yang kekal dari Yang Lanjut Usianya. Gelar "Anak Manusia" ini kemudian diadopsi secara luas oleh Yesus sendiri untuk merujuk kepada diri-Nya, menghubungkan misi-Nya dengan sosok surgawi yang dinubuatkan oleh Daniel, yang memiliki otoritas ilahi dan peran penebusan.
Di antara kitab-kitab Perjanjian Lama, Daniel menyajikan salah satu pernyataan yang paling eksplisit dan jelas mengenai kebangkitan orang mati. Secara spesifik, Daniel 12:2 menubuatkan bahwa akan tiba saatnya ketika "banyak dari antara orang-orang yang telah tidur di dalam debu tanah akan bangun." Ayat ini tidak hanya menegaskan adanya kehidupan setelah kematian tetapi juga memperkenalkan konsep penghakiman akhir, di mana sebagian akan bangkit untuk menerima hidup kekal dan yang lain untuk menerima kehinaan abadi.

