
Daniel dan Raja Babel
Di kerajaan Yehuda, hiduplah empat pemuda bijaksana: Daniel, Hananya, Misael, dan Azarya. Suatu hari, Raja Nebukadnezar dari Babel datang dan menaklukkan negeri mereka. Banyak orang, termasuk keempat pemuda itu, dibawa sebagai tawanan ke Babel yang megah.

Raja Nebukadnezar ingin para pemuda Ibrani yang paling cerdas dan tampan untuk melayani di istananya. Dia memerintahkan Aspenaz, kepala pegawai istana, untuk memilih mereka dan mengajari mereka bahasa dan tulisan orang Babel.

Daniel, Hananya, Misael, dan Azarya terpilih. Mereka diberi nama baru Babel: Daniel menjadi Beltsazar, Hananya menjadi Sadrakh, Misael menjadi Mesakh, dan Azarya menjadi Abednego.

Raja memerintahkan agar mereka makan makanan dan minum anggur dari meja raja. Tetapi Daniel berketetapan hati untuk tidak menajiskan dirinya dengan makanan raja, karena itu bertentangan dengan hukum Tuhannya.

Daniel dengan berani berbicara kepada Aspenaz. "Tolong, izinkan kami untuk tidak memakan makanan raja." Aspenaz khawatir. "Aku takut pada raja," katanya. "Jika kalian terlihat kurang sehat, kepalaku bisa dipenggal!"

Kemudian Daniel berbicara kepada penjaga yang ditugaskan untuk mereka. "Ujilah kami selama sepuluh hari," usul Daniel. "Beri kami hanya sayuran untuk dimakan dan air untuk diminum."

Penjaga itu setuju untuk mencoba. Selama sepuluh hari, Daniel dan teman-temannya hanya makan sayuran dan minum air, sementara para pemuda lainnya menikmati makanan mewah dari raja.

Setelah sepuluh hari, penjaga membandingkan mereka. Ajaib! Daniel dan teman-temannya terlihat lebih sehat dan lebih kuat daripada semua pemuda yang telah memakan makanan raja.

Sejak saat itu, penjaga mengizinkan mereka untuk terus makan makanan sehat mereka. Tuhan memberkati keempat pemuda itu dengan pengetahuan dan kebijaksanaan yang luar biasa dalam segala hal.

Ketika tiba saatnya mereka dihadapkan kepada Raja Nebukadnezar, raja mendapati mereka sepuluh kali lebih bijaksana daripada semua orang bijak di kerajaannya. Daniel dan teman-temannya tetap setia kepada Tuhan, dan Tuhan meninggikan mereka di negeri asing.

Pertanyaan Perenungan
Pilih satu pertanyaan yang paling sesuai dengan kondisi teman-teman, kemudian renungkan dan buat penerapan praktisnya.
- Apa saja "santapan raja" (godaan, kompromi, atau tekanan sosial) dalam hidup Anda saat ini yang menantang Anda untuk melanggar prinsip atau keyakinan yang Anda pegang?
- Prinsip atau nilai apa yang bagi Anda tidak dapat ditawar, tidak peduli seberapa besar tekanan dari lingkungan kerja, sekolah, atau pertemanan?
Navigasi Cerita
📚 Fun Facts Kitab Daniel
Salah satu keunikan paling menonjol dari Kitab Daniel adalah strukturnya yang ditulis dalam dua bahasa Semit yang berbeda. Bagian pembuka (pasal 1) dan bagian nubuat akhir (pasal 8-12) ditulis dalam bahasa Ibrani, bahasa suci bangsa Israel. Namun, bagian tengah yang signifikan (pasal 2-7) ditulis dalam bahasa Aram, yang pada masa itu berfungsi sebagai bahasa pergaulan internasional di Timur Dekat. Para ahli percaya bahwa penggunaan bahasa Aram ini disengaja, karena bagian tersebut berfokus pada kerajaan-kerajaan dunia dan pesan Tuhan yang ditujukan bukan hanya untuk orang Yahudi, tetapi juga untuk bangsa-bangsa lain.
Kitab Daniel secara alami terbagi menjadi dua bagian yang sangat berbeda dalam gaya penulisan dan konten. Enam pasal pertama menyajikan serangkaian kisah naratif tentang kehidupan Daniel dan teman-temannya di istana Babilonia dan Persia, yang menyoroti kesetiaan mereka kepada Tuhan di tengah lingkungan yang asing. Sebaliknya, enam pasal terakhir (pasal 7-12) beralih ke genre apokaliptik, yang berisi penglihatan-penglihatan simbolis dan dramatis tentang masa depan, kebangkitan dan kejatuhan kerajaan, serta kemenangan akhir Kerajaan Allah.
Ungkapan modern "the writing on the wall" yang berarti pertanda malapetaka yang tak terhindarkan, berasal langsung dari kisah nyata dalam Daniel pasal 5. Dalam narasi tersebut, sebuah tangan misterius muncul dan menulis kata-kata samar di dinding istana Raja Belsyazar saat ia sedang mengadakan pesta. Hanya Daniel yang mampu menafsirkan tulisan itu sebagai pesan penghakiman dari Tuhan atas kesombongan sang raja. Malam itu juga, Belsyazar terbunuh dan kerajaannya direbut, menjadikan frasa tersebut simbol abadi akan peringatan ilahi.
Kitab Daniel memperkenalkan salah satu gelar terpenting bagi Yesus dalam Perjanjian Baru. Dalam penglihatannya di pasal 7, Daniel menggambarkan "seorang seperti anak manusia" yang datang di atas awan-awan surga untuk menerima kuasa dan kerajaan yang kekal dari Yang Lanjut Usianya. Gelar "Anak Manusia" ini kemudian diadopsi secara luas oleh Yesus sendiri untuk merujuk kepada diri-Nya, menghubungkan misi-Nya dengan sosok surgawi yang dinubuatkan oleh Daniel, yang memiliki otoritas ilahi dan peran penebusan.
Di antara kitab-kitab Perjanjian Lama, Daniel menyajikan salah satu pernyataan yang paling eksplisit dan jelas mengenai kebangkitan orang mati. Secara spesifik, Daniel 12:2 menubuatkan bahwa akan tiba saatnya ketika "banyak dari antara orang-orang yang telah tidur di dalam debu tanah akan bangun." Ayat ini tidak hanya menegaskan adanya kehidupan setelah kematian tetapi juga memperkenalkan konsep penghakiman akhir, di mana sebagian akan bangkit untuk menerima hidup kekal dan yang lain untuk menerima kehinaan abadi.
