
Kemenangan atas Moab dan Amon
Di kerajaan Yehuda yang makmur, Raja Yosafat memerintah dengan bijaksana. Rakyatnya hidup damai dan sejahtera di bawah kepemimpinannya. Suatu hari, kedamaian itu terusik.

Utusan itu membawa kabar yang mengejutkan: pasukan besar dari Moab, Amon, dan Meunim sedang berbaris menuju Yehuda. Mereka datang untuk berperang dan merebut tanah Yehuda.

Hati Raja Yosafat dipenuhi ketakutan. Namun, imannya kepada Tuhan lebih besar daripada rasa takutnya. Ia segera memerintahkan seluruh rakyat Yehuda untuk berpuasa dan berdoa.

Dari seluruh penjuru Yehuda, rakyat berdatangan ke Yerusalem. Mereka berkumpul di pelataran Bait Suci, tua dan muda, laki-laki dan perempuan, bahkan anak-anak kecil.

Di hadapan seluruh rakyatnya, Raja Yosafat berdoa dengan suara yang lantang, “Ya Tuhan, Allah nenek moyang kami, bukankah Engkau yang berkuasa di atas segala kerajaan bangsa-bangsa? Kuasa dan keperkasaan ada di dalam tangan-Mu.”

“Lihatlah, mereka datang untuk mengusir kami dari tanah milik-Mu yang telah Engkau wariskan kepada kami. Kami tidak memiliki kekuatan untuk menghadapi pasukan yang besar ini. Kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan, tetapi mata kami tertuju kepada-Mu.”

Tiba-tiba, Roh Tuhan turun ke atas seorang Lewi bernama Yahaziel. Ia berdiri di tengah-tengah jemaah dan berseru dengan suara nyaring.

“Dengarkanlah, hai seluruh Yehuda dan penduduk Yerusalem dan tuanku Raja Yosafat! Beginilah firman TUHAN kepadamu: Janganlah kamu takut dan terkejut karena laskar yang besar ini, sebab bukan kamu yang akan berperang, melainkan Allah.”

“Besok, majulah melawan mereka. Kamu tidak perlu berperang dalam pertempuran ini. Tinggallah berdiri di tempatmu, dan lihatlah bagaimana TUHAN akan memberikan kemenangan kepadamu.”

Mendengar itu, Raja Yosafat dan seluruh rakyat Yehuda bersujud menyembah Tuhan. Sukacita dan kelegaan memenuhi hati mereka.

Keesokan harinya, pagi-pagi buta, mereka berangkat menuju padang gurun Tekoa. Di depan barisan prajurit, Raja Yosafat menempatkan para penyanyi.

Mereka tidak membawa senjata, melainkan alat-alat musik. Mereka menyanyikan lagu pujian, “Nyanyikanlah nyanyian syukur bagi TUHAN, bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!”

Saat mereka mulai bersorak-sorai dan menyanyikan puji-pujian, Tuhan membuat pasukan musuh saling menyerang.

Pasukan Amon dan Moab bangkit melawan penduduk pegunungan Seir dan memusnahkan mereka. Setelah itu, mereka saling membunuh sampai tidak ada yang tersisa.

Ketika orang-orang Yehuda tiba di menara pengintai di padang gurun, mereka melihat ke arah pasukan musuh. Yang mereka lihat hanyalah mayat-mayat bergelimpangan di tanah. Tidak ada seorang pun yang selamat.

Yosafat dan rakyatnya turun untuk menjarah barang-barang musuh. Mereka menemukan begitu banyak ternak, harta benda, pakaian, dan barang-barang berharga.

Jarahan itu begitu banyak sehingga mereka membutuhkan waktu tiga hari untuk mengumpulkannya.

Pada hari keempat, mereka berkumpul di Lembah Pujian. Di sana mereka memuji Tuhan atas kemenangan ajaib yang telah Dia berikan.

Mereka kembali ke Yerusalem dengan sukacita, diiringi dengan gambus, kecapi, dan nafiri, menuju ke Bait Suci.

Kerajaan Yehuda kembali aman dan damai. Raja Yosafat memerintah dengan bijaksana, dan Tuhan menyertai dia.

Pertanyaan Perenungan
Pilih satu pertanyaan yang paling sesuai dengan kondisi teman-teman, kemudian renungkan dan buat penerapan praktisnya.
- Bagaimana doa Yosafat dalam menghadapi ancaman musuh dapat menginspirasi cara Anda mendekati tantangan pribadi hari ini, dengan bergantung sepenuhnya pada Tuhan?
- Apa pelajaran dari nubuat Yahaziel bahwa "pertempuran itu bukanlah pertempuranmu, melainkan pertempuran Allah" yang bisa Anda terapkan dalam situasi konflik dalam kehidupan Kristen Anda?