
Mordekhai Dihormati
Malam itu, di istana Susan yang megah, Raja Ahasyweros tidak bisa tidur. Pikirannya gelisah dan matanya tak mau terpejam. Ia berguling ke kiri dan ke kanan di atas ranjangnya yang mewah, namun ketenangan tak kunjung datang.

"Bawakan kitab catatan sejarah kerajaan," perintahnya kepada pelayan yang berjaga. "Bacakanlah untukku, mungkin itu bisa menenangkan pikiranku." Seorang pelayan dengan hormat membawa sebuah gulungan besar dan mulai membacakan catatan peristiwa-peristiwa penting kerajaan.

Telinga raja menajam ketika pelayan itu membaca tentang bagaimana Mordekhai, seorang Yahudi yang duduk di gerbang istana, telah mengungkap persekongkolan Bigtan dan Teresh, dua sida-sida yang berencana membunuh raja. "Tunggu," kata raja. "Kehormatan dan penghargaan apa yang telah kita berikan kepada Mordekhai atas jasanya itu?" Pelayannya menjawab, "Tidak ada satu pun yang telah dilakukan baginya, Tuanku Raja."

Tepat pada saat itu, Haman yang angkuh baru saja tiba di pelataran luar istana. Ia datang pagi-pagi sekali dengan sebuah rencana jahat: meminta izin raja untuk menggantung Mordekhai di tiang gantungan setinggi lima puluh hasta yang telah ia siapkan semalam.

"Siapa yang ada di pelataran?" tanya raja. "Haman," jawab seorang penjaga. "Suruh dia masuk!" Ketika Haman masuk dan membungkuk, raja langsung bertanya, "Menurutmu, apa yang harus dilakukan bagi orang yang sangat berkenan di hati raja dan ingin dihormatinya?"

Hati Haman membengkak karena kesombongan. Tentu saja raja sedang membicarakan dirinya! "Bagi orang yang raja berkenan menghormatinya," kata Haman dengan bersemangat, "Hendaklah dikenakan pakaian kerajaan yang biasa dipakai raja, dan dinaikkan ke atas kuda yang biasa ditunggangi raja, yang di kepalanya dipasang mahkota kerajaan!"

"Lalu," lanjut Haman, "Serahkan pakaian dan kuda itu ke tangan salah seorang bangsawan raja yang paling mulia. Biarkan bangsawan itu mengenakan pakaian itu pada orang yang dihormati raja, lalu menuntunnya berkeliling kota sambil berseru, 'Beginilah dilakukan kepada orang yang raja berkenan menghormatinya!'"

Wajah raja berseri-seri. "Ide yang sangat bagus!" serunya. "Sekarang, cepatlah! Ambil pakaian dan kuda itu, seperti yang kau katakan, dan lakukanlah semua itu kepada Mordekhai, orang Yahudi yang duduk di pintu gerbang raja. Jangan sampai ada satu pun yang terlewat dari semua yang telah kau usulkan!"

Dengan hati yang hancur dan wajah pucat, Haman terpaksa melakukan perintah itu. Ia mengambil pakaian kebesaran, mengenakannya pada Mordekhai, lalu dengan perasaan terhina menuntun kuda yang ditunggangi musuh bebuyutannya itu keliling alun-alun kota.

Sepanjang jalan, Haman harus meneriakkan kata-kata yang paling ia benci, "Beginilah dilakukan kepada orang yang raja berkenan menghormatinya!" Wajah-wajah orang di kerumunan menatap dengan heran, beberapa berbisik-bisik melihat pemandangan yang luar biasa itu.

Setelah parade yang memalukan itu selesai, Haman tidak berani mengangkat wajahnya. Ia bergegas pulang, menutupi kepalanya dengan kain karena malu dan berduka. Ia menceritakan semua yang telah terjadi kepada Zeresh, istrinya, dan teman-temannya.

Zeresh dan teman-temannya berkata dengan firasat buruk, "Jika Mordekhai, di hadapan siapa engkau mulai jatuh ini, adalah keturunan Yahudi, engkau tidak akan sanggup melawannya. Engkau pasti akan jatuh binasa di hadapannya!" Saat mereka masih berbicara, para sida-sida raja datang untuk menjemput Haman ke perjamuan kedua Ratu Ester.

Pertanyaan Perenungan
Pilih satu pertanyaan yang paling sesuai dengan kondisi teman-teman, kemudian renungkan dan buat penerapan praktisnya.
- Merenungkan raja yang tidak bisa tidur, pernahkah saya menyadari bahwa "kebetulan" dalam hidup saya sebenarnya adalah cara Tuhan bekerja di belakang layar?
- Seperti Haman yang salah mengira penghormatan itu untuknya, kapan kesombongan pernah membutakan saya dari kenyataan, dan bagaimana saya bisa lebih rendah hati?
📚 Fun Facts Kitab Ester
Kitab Ester adalah satu-satunya kitab dalam Alkitab yang tidak secara eksplisit menyebut nama Allah. Meski begitu, banyak yang melihat kehadiran Tuhan melalui "kebetulan" atau providensi yang menyelamatkan bangsa Yahudi dari kehancuran.
Kitab Ester menceritakan asal-usul hari raya Purim, perayaan Yahudi untuk memperingati keselamatan mereka dari rencana Haman. Nama "Purim" berasal dari kata "pur" (undian), karena Haman melempar undi untuk menentukan hari pembantaian (Ester 3:7).
Cerita Ester terjadi di masa Kekaisaran Persia, kemungkinan pada masa pemerintahan Raja Ahasyweros (Xerxes I, sekitar 486–465 SM). Istana di Susan (Susa) digambarkan dengan detail mewah, mencerminkan kemegahan Persia kala itu.
Nama asli Ester adalah Hadassa (Ester 2:7), yang berarti "pohon murad" dalam bahasa Ibrani. Nama "Ester" kemungkinan diambil dari kata Persia atau Babilonia yang berarti "bintang," sesuai dengan kecantikan dan perannya yang bersinar.
Kitab Ester ditulis dengan gaya naratif yang penuh drama, seperti plot twist, intrik istana, dan pembalikan nasib. Ini membuatnya terasa seperti novel kuno.

