
Haman Diadukan oleh Ester dan Dihukum Mati
Maka datanglah raja bersama Haman untuk menghadiri perjamuan yang telah disediakan Ratu Ester untuk kedua kalinya. Suasana terasa tegang, meskipun meja dipenuhi dengan hidangan paling lezat di seluruh kerajaan.

Pada hari kedua itu, sambil minum anggur, raja kembali bertanya kepada Ester, "Apakah permintaanmu, Ratu Ester? Itu akan dikabulkan. Dan apakah keinginanmu? Sampai setengah kerajaan sekalipun, itu akan dipenuhi."

Ester menarik napas dalam-dalam, keberaniannya kini telah bulat. "Ya, Tuanku Raja, jika hamba mendapat kasih karunia di hadapanmu, dan jika baik pada pemandangan raja, karuniakanlah kiranya nyawaku atas permintaanku, dan bangsaku atas keinginanku."

Ia melanjutkan, suaranya bergetar karena emosi, "Karena kami, hamba dan bangsa hamba, telah dijual untuk dibinasakan, dibunuh, dan dimusnahkan! Jika kami hanya dijual untuk menjadi budak, hamba akan tetap diam, karena kesusahan itu tidak sepadan untuk menyusahkan raja."

Raja Ahasyweros terperanjat. Ia bangkit dari kursinya, amarah mulai menyala di matanya. "Siapakah dia dan di manakah orang yang hatinya lancang berbuat demikian?" tanyanya dengan suara menggelegar.

Dengan tangan yang gemetar namun tatapan yang tak goyah, Ester menunjuk lurus ke seberang meja. "Penganiaya dan musuh itu," katanya dengan suara yang jelas dan mantap, "ialah Haman, orang jahat ini!"

Seketika, Haman menjadi pucat pasi. Ia gemetar ketakutan di hadapan raja dan ratu. Amarah raja begitu besar sehingga ia bangkit dan berjalan keluar ke taman istana untuk menenangkan dirinya, meninggalkan Haman sendirian dalam kengeriannya.

Melihat kesempatannya, Haman yang putus asa segera bangkit dan memohon kepada Ratu Ester untuk menyelamatkan nyawanya. Dalam kepanikannya, ia menjatuhkan dirinya ke atas sofa tempat Ester bersandar, menggapai-gapai jubahnya.

Tepat pada saat itu, raja kembali dari taman istana. Ia melihat Haman di atas sofa bersama ratu dan amarahnya meledak tak terkendali. "Apakah ia bahkan hendak memperkosa ratu di depanku, di dalam rumahku sendiri?" seru raja.

Begitu raja selesai berbicara, para sida-sida yang berdiri di dekatnya segera maju dan menutupi wajah Haman, sebuah tanda bahwa ia telah dijatuhi hukuman mati. Haman bahkan tidak sempat mengucapkan sepatah kata pun.

Kemudian Harbona, salah seorang sida-sida, angkat bicara. "Lagipula," katanya, "di dekat rumah Haman telah didirikan tiang gantungan setinggi lima puluh hasta, yang dibuatnya untuk Mordekhai, orang yang telah menyelamatkan raja!" Raja pun langsung memberi perintah, "Gantung dia di sana!"

Maka mereka menggantung Haman pada tiang yang telah ia siapkan untuk Mordekhai. Setelah keadilan ditegakkan, barulah amarah raja yang dahsyat itu mereda. Di dalam istana, keheningan yang khusyuk menyelimuti ruangan perjamuan itu.

Pertanyaan Perenungan
Pilih satu pertanyaan yang paling sesuai dengan kondisi teman-teman, kemudian renungkan dan buat penerapan praktisnya.
- Melihat keberanian Ester, dalam situasi apa saya dipanggil untuk menyuarakan kebenaran, meskipun itu berisiko bagi diri saya?
- Haman jatuh ke dalam perangkap yang ia buat sendiri. Bagaimana hal ini menguatkan kepercayaan saya pada keadilan Tuhan di tengah ketidakadilan?
📚 Fun Facts Kitab Ester
Kitab Ester adalah satu-satunya kitab dalam Alkitab yang tidak secara eksplisit menyebut nama Allah. Meski begitu, banyak yang melihat kehadiran Tuhan melalui "kebetulan" atau providensi yang menyelamatkan bangsa Yahudi dari kehancuran.
Kitab Ester menceritakan asal-usul hari raya Purim, perayaan Yahudi untuk memperingati keselamatan mereka dari rencana Haman. Nama "Purim" berasal dari kata "pur" (undian), karena Haman melempar undi untuk menentukan hari pembantaian (Ester 3:7).
Cerita Ester terjadi di masa Kekaisaran Persia, kemungkinan pada masa pemerintahan Raja Ahasyweros (Xerxes I, sekitar 486–465 SM). Istana di Susan (Susa) digambarkan dengan detail mewah, mencerminkan kemegahan Persia kala itu.
Nama asli Ester adalah Hadassa (Ester 2:7), yang berarti "pohon murad" dalam bahasa Ibrani. Nama "Ester" kemungkinan diambil dari kata Persia atau Babilonia yang berarti "bintang," sesuai dengan kecantikan dan perannya yang bersinar.
Kitab Ester ditulis dengan gaya naratif yang penuh drama, seperti plot twist, intrik istana, dan pembalikan nasib. Ini membuatnya terasa seperti novel kuno.

