BacaKisahAlkitab logoBacaKisahAlkitab
Ester 1Ratu Wasti Dibuang

Ratu Wasti Dibuang

Page 1 / 10

Pada tahun ketiga pemerintahannya, Raja Ahasyweros yang agung, yang memerintah atas 127 provinsi dari India hingga Etiopia, mengadakan pesta besar di benteng Susan. Selama 180 hari, ia memamerkan kekayaan kerajaannya yang mulia dan kemegahan kebesarannya kepada semua pangeran dan pejabatnya.

Page 1
Page 2 / 10

Setelah itu, raja mengadakan pesta selama tujuh hari untuk semua orang di benteng Susan, dari yang terbesar hingga yang terkecil. Pesta itu diadakan di taman istana, yang dihiasi dengan tirai putih dan biru yang diikat dengan tali linen halus dan kain ungu ke cincin perak dan pilar marmer. Sofa-sofa dari emas dan perak diletakkan di atas lantai pualam dan batu-batu mahal.

Page 2
Page 3 / 10

Sementara itu, di dalam istana kerajaan, Ratu Wasti juga mengadakan pestanya sendiri untuk para wanita bangsawan. Suasana di pestanya sama meriahnya, dipenuhi dengan tawa dan percakapan para wanita dari seluruh penjuru kerajaan.

Page 3
Page 4 / 10

Pada hari ketujuh, ketika hati raja gembira karena anggur, ia memerintahkan tujuh sida-sidanya untuk membawa Ratu Wasti ke hadapannya dengan mengenakan mahkota kerajaannya. Ia ingin semua orang dan para pangeran melihat kecantikannya, karena ia sangat rupawan.

Page 4
Page 5 / 10

Para sida-sida segera pergi ke pesta para wanita untuk menyampaikan perintah raja. Mereka mendekati Ratu Wasti dengan hormat dan memberitahukan bahwa raja ingin ia datang untuk dipamerkan di hadapan para tamunya.

Page 5
Page 6 / 10

Namun, Ratu Wasti menolak untuk datang atas perintah raja yang disampaikan melalui para sida-sida. Dia menjunjung tinggi martabatnya dan tidak mau diperlakukan sebagai objek pameran di hadapan pria-pria yang sedang mabuk. Keputusannya tegas dan tidak dapat diubah.

Page 6
Page 7 / 10

Ketika para sida-sida kembali dengan jawaban Ratu Wasti, Raja Ahasyweros menjadi sangat marah. Wajahnya memerah karena murka, dan amarahnya berkobar-kobar di dalam dirinya. Pesta yang meriah tiba-tiba menjadi tegang karena amarah raja.

Page 7
Page 8 / 10

Dalam kemarahannya, raja berpaling kepada orang-orang bijaksananya, para ahli hukum dan penasihat. Ia bertanya kepada tujuh pangeran Persia dan Media, "Menurut hukum, apa yang harus kita lakukan terhadap Ratu Wasti karena dia tidak mematuhi perintahku?"

Page 8
Page 9 / 10

Memukan menjawab di hadapan raja dan para pangeran, "Ratu Wasti telah berbuat salah, bukan hanya kepada raja, tetapi kepada semua orang di kerajaan. Perbuatannya akan membuat semua wanita memandang rendah suami mereka. Keluarkanlah dekrit kerajaan bahwa Wasti tidak boleh lagi datang ke hadapan Raja, dan berikanlah kedudukan ratunya kepada orang lain yang lebih baik darinya."

Page 9
Page 10 / 10

Nasihat itu menyenangkan raja dan para pangerannya. Surat-surat pun segera ditulis dan dikirim ke seluruh provinsi kerajaan, ke setiap provinsi dalam aksaranya sendiri dan kepada setiap bangsa dalam bahasanya sendiri, yang menyatakan bahwa setiap pria harus menjadi penguasa di rumahnya sendiri.

Page 10

Pertanyaan Perenungan

Pilih satu pertanyaan yang paling sesuai dengan kondisi teman-teman, kemudian renungkan dan buat penerapan praktisnya.

  1. Pernahkah Anda, seperti raja, membuat keputusan saat sedang emosi atau "mabuk" oleh kesuksesan atau kekuasaan? Bagaimana Anda bisa belajar untuk mengambil jeda dan mencari nasihat yang bijak sebelum bertindak?
  2. Meskipun nama Tuhan tidak disebutkan secara eksplisit dalam kitab Ester, peristiwa pemecatan Wasti pada akhirnya membuka jalan bagi Ester untuk menjadi ratu dan menyelamatkan bangsanya. Pernahkah Anda mengalami peristiwa yang pada awalnya tampak negatif atau tidak berarti, namun di kemudian hari Anda melihatnya sebagai bagian dari rencana yang lebih besar?

📚 Fun Facts Kitab Ester

Kitab Ester adalah satu-satunya kitab dalam Alkitab yang tidak secara eksplisit menyebut nama Allah. Meski begitu, banyak yang melihat kehadiran Tuhan melalui "kebetulan" atau providensi yang menyelamatkan bangsa Yahudi dari kehancuran.

Kitab Ester menceritakan asal-usul hari raya Purim, perayaan Yahudi untuk memperingati keselamatan mereka dari rencana Haman. Nama "Purim" berasal dari kata "pur" (undian), karena Haman melempar undi untuk menentukan hari pembantaian (Ester 3:7).

Cerita Ester terjadi di masa Kekaisaran Persia, kemungkinan pada masa pemerintahan Raja Ahasyweros (Xerxes I, sekitar 486–465 SM). Istana di Susan (Susa) digambarkan dengan detail mewah, mencerminkan kemegahan Persia kala itu.

Nama asli Ester adalah Hadassa (Ester 2:7), yang berarti "pohon murad" dalam bahasa Ibrani. Nama "Ester" kemungkinan diambil dari kata Persia atau Babilonia yang berarti "bintang," sesuai dengan kecantikan dan perannya yang bersinar.

Kitab Ester ditulis dengan gaya naratif yang penuh drama, seperti plot twist, intrik istana, dan pembalikan nasib. Ini membuatnya terasa seperti novel kuno.